License

Kamis, 13 April 2017

4 Hal Yang Membuat Saya Betah Di Samarinda

mutia.top - Saya pertama kali datang ke Samarinda akhir juli 2009 bersama suami dan keluarga saya dari Jombang. Kebetulan 3 hari kemudian akan diadakan resepsi pernikahan kami di Samarinda. Sebelum itu, Resepsi pernikahan kami juga digelar di Jombang sekitar pertengahan Juli 2009.  Jadi otomatis sebelum acara pernikahan kami saya belum pernah datang ke Samarinda.

Jembatan Mahakam dan ikon kota Samarinda; ikan Pesut
Sumber Gambar : Disini

Perjalanan udara dari Bandara Internasional Juanda Surabaya menuju Bandara Sepinggan Balikpapan memakan waktu kurang lebih 1 jam 15 menit. Dari Bandara Balikpapan perjalanan dilanjutkan melalui darat ke Samarinda dengan jarak tempuh kurang lebih 3 jam. Dalam perjalanan Balikpapan-Samarinda melewati Hutan Belantara yang umumnya dikenal dengan nama Bukit Suharto. Saat itulah saya merasa “dibuang” jauh dari tanah kelahiran saya. Tapi namanya jodohnya di Samarinda mau bagaimana lagi. Dan lagi sejak kami pacaran, saya sudah mempersiapkan diri dengan resiko tsb. Lalu apa yang membuat saya betah tinggal di Samarinda?

Pertama, karena saya berjodoh dengan orang Samarinda
Yap itu alasan yang paling masuk akal. Ketika saya masih sekolah MTs (setingkat SMP) Ibu saya pernah bermimpi. Dalam mimpinya, Ibu melihat saya berjalan diatas lautan yang luas dan seterusnya. Ketika hal tsb ditanyakan pada salah satu paman saya, katanya itu artinya jodoh saya nantinya orang jauh (nyebrang laut) dan ternyata memang benar.
Islamic Center Samarinda

Saya sendiri bertemu dengan suami saya ketika kami sama-sama mondok di salah satu Ponpes di Jombang sekitar tahun 2001-2002. Sekitar tahun 2005 kami mulai pacaran. Saat itu beliau sedang skripsi dan saya baru kuliah semester 5. Setelah lulus pada tahun yang sama, beliau kembali ke Samarinda. Otomatis kami pacaran ala LDR (Long Distance Relationship) selama 4 tahun. Dalam 1 tahun paling banyak 2x kami bertemu secara langsung. But its Okey, itulah yang kami inginkan.
Kedua, Karena cuacanya cenderung panas
Saat ini, di Tahun 2017 Saya sudah hampir 8 tahun tinggal di Kota yang terkenal dengan Kota Tepian ini.  Meskipun terletak didaerah khatulistiwa tapi istimewanya kota ini memiliki curah hujan cukup tinggi. Artinya meskipun sedang musim kemarau, masih ada hujan yang sesekali datang membasahi kota ini. Itu adalah karunia Allah untuk “mendinginkan” kota yang dilewati garis khatulistiwa ini.
Suhu udara di kota samarinda berkisar antara 24-34 C. Meskipun kondisi cuaca di kota ini lumayan panas tapi kondisi cuaca seperti itu justru bersahabat dengan tubuh saya. Disini pada saat musim kemarau tidak begitu terasa perbedaannya dengan musim lainnya. Jadi gak begitu berpengaruh dengan kondisi tubuh.

Ketiga, Banyak orang Jawa-nya
Tak bisa dipungkiri kesamaan suku mempermudah proses adaptasi saya di Samarinda. Meski keluarga suami saya asli orang Samarinda tapi mereka masih keturunan Jawa. (Alm) Bapak mertua lahir dan besar di Klaten Jawa Tengah. Beliau bertemu Ibu Mertua ketika dinas di Samarinda. Sedangkan Ibu Mertua, meskipun beliau lahir di Samarinda tapi orang tuanya juga asli orang Jawa. Otomatis bahasa yang dipakai dilingkungan keluarga pun bahasa Jawa campur bahasa lokal Samarinda.

Apa itu bahasa Lokal Samarinda? Di Kota ini penduduknya terdiri dari berbagai suku diantaranya Banjar, Bugis, Jawa, Kutai, dll. Akan tetapi bahasa lokal disini mendapat banyak pengaruh dari bahasa Banjar. Istilah Ikam, ulun, handak, dll merupakan contoh dari bahasa Banjar yang artinya Kamu, Aku, mau (ingin).

Mall Lembuswana, Samarinda
Sumber Gambar : Disini

Keempat, Kota kecil dengan banyak Mall
Luas wilayah Kota Samarinda 718 KM2 dan jumlah penduduk sekitar 883.838 jiwa (Tahun 2015). Dibanding kota kelahiran saya Kabupaten Jombang yang memiliki luas 1.159,50 km2 tentu kota ini termasuk kota kecil. Jumlah penduduknya pun lebih sedikit dari Kabupaten Jombang yang memiliki jumlah penduduk 1.201.557 jiwa (2010).
Meskipun termasuk kota kecil tapi kota ini memiliki 5 Mall (pusat perbelanjaan) yang tersebar di beberapa bagian Kota Samarinda. Disamping itu, dari beberapa pasar ada pasar Induk Segiri yang buka hingga 24 jam non stop. Dan ada pasar perkulakan produk fashion yaitu Pasar Pagi Samarinda. Pasar ini adalah rujukan bagi para pedagang kota lain di Kalimantan Timur seperti Balikpapan, Berau, Sangatta dll untuk belanja produk fashion secara grosir.
So, apa Anda ingin jalan-jalan ke Samarinda??? Apapun itu semoga tulisan pribadi saya ini bermanfaat untuk Anda. Terimakasih sudah berkunjung ke Blog mutia.top dan jika berkenan silahkan tinggalkan jejak dengan memberi komentar dibawah ini. Bagi pengunjung Blogger, Insyaallah saya akan mengunjungi balik blog Anda ;)



NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
 

Delivered by FeedBurner